Senin, 05 Mei 2008

KEWAJIBAN TERHADAP ALLAH DAN BERBUAT BAIK TERHADAP SESAMA MANUSIA (BAGIAN IV)


واعبداللّه ولا تشركو به شيأ وبالوالدين احسانا وبذىلقربى واليتمى والمساكيني والجارذىالقربي والجارالجنب والصّحب بالجنب وابن السّبيل وماماكت ايمانكم انّ اللّه كان مختالا فخو

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua oarng tua (ibu bapakmu), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang sombong dan membangga-banggaka diri” (Q.S. An-Nisa 36)

Berbuat Baik Kepada Anak Yatim

Anak yatim adalah orang yang harus dilindungi jiwa dan hartanya dan itu adalah tanggung jawab kita semua sebagai orang-orang yang beriman, sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Ma’un, “

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?, itulah orang yang menghardik anak yatim”

Menghardik anak yatim mempunyai makna yang cukup luas di antaranya, menyakiti pisiknya, menyakiti perasaannya, memakan hartanya dan tidak perduli dengan kehidupannya. Oleh karena itu jangan sampai kita termasuk orang yang mendustkan agama, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam rangka berbuat baik kepada anak yatim,di antaranya:

Pertama: mengasuhnya, Rosululah SAW bersabda :

“Saya bersama orang yang mengasuh anak yatim dalam surga seperti ini” (Beliau mengisyaratkan yaitu seperti telunjuk dan jari tengah – (H.R Bukhari)

Hidup berdampingan dengan Rosulullah di dalam syurga adalah menjadi dambaan muslim, dan jalan menuju kearah itu adalah dengan ikhlas mengasuh anak yatim baik dirinya maupun hartanya, idealnya anak yatim lebih baik diasuh dalam suatu rumah tangga supaya ia merasakan limpahan kasih sayang dari orang tua asuhnya, sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

“ Rumah yang paling disukai oleh Allah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan biak, (H.R Al-Baihaqi)

Dari hadits di atas dapat difahami, bahwa anak yatim akan membawa berkah dalam suatu rumah tangga apabila ia diperlakukan dengan baik. Sebaliknya suatu rumah tangga akan mendapat petaka apabila anak yatim yang berada di dalamnya diperlakukan dengan tidak baik.

Kedua, menjaga Hartanya,

Anak yatim memerlukan perawatan, pemeliharaan dan perlindungan dari orang yang bertanggung jawab sebagai pengganti orang tuanya. Kewajiban para wali/karib kerabat atau ummat islam pada umumnya, tidak hanya membantunya bila anak yatim itu tidak punya, tetapi juga menyelamatkan hartanya, bila ada peninggalan orang tuanya, sebagaimana Allah memperingatkan dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zolim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. Dan mereka akan masuk kedalam api yang menyala-nyla (neraka)” (An-Nisa : 10)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

“Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang baik (bermanfaat), sehingga sampai ia dewasa…” ( Al-An’am : 152)”

Di dalam ayat di atas dilarang untuk mendekati harta anak yatim, sebab kalau sudah dekat biasanya ada kecenderungan untuk memilikinya dengan segala macam cara. Tindakan preventif dalam agama islam lebih diutamakan, sebagaimana kita lihat mengenai masalah Zina dalam surat Al-Isra : 32, yang artinya “Dan janganlah kamu dekati Zina…” Dekatpun tidak boleh, apalagi melakukannya, sikap kita tehadap orang tua dalam surat Al-isra “ 23, yang artinya : “ Dan janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah….” Berkata ah.. saja tidak boleh apalagi memukulnya atau menyakitinya. Begitu juga halnya dengan harta anak yatim, dilarang mendekatinya apalagi memakannya.

Ketiga, menyantuninya:

Meskipun kita tidak memeliharanya secara langsung dalam rumah tangga kita, paling tidak kita membantu biaya kehidupannya (seperti biaya makan atau biaya pendidikannya) baik diberikan secara langsung melalu dirinya atau keluarganya maupun melalui media atau yayasan yang telah kita percaya seperti 9program orang tua asuh) dsb, Sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

“Apakah engkau senang bila hatimu lunak dan dapat terkabul apa yang engkau harapkan? Kasihanilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu, niscaya hatimu lunak dan terkabulah apa yang enghkau harapkan." (H.R Thabrani)

Tidak ada komentar: