Senin, 19 Mei 2008

SEKILAS KEGIATAN YPI HIDAYATUL MUTTAQIEN






LATAR BELAKANG


Madrasah Diniyah Hidayatul Muttaqien didirikan pada tahun 1968 M oleh (Alm) H.E.Sukaeji Syafruddin, di atas tanah seluas 482 m, yang berlokasi di Jln. Lele Raya / Villa Pamulang mas RT 03/05, Kel. Bambu Apus, Kec. Pamulang, Kab. Tangerang.

Dengan memakai pola pengajaran/pembinaan sebagaimana sebuah pondok pesantren, Alhamdulullah, Madrasah Diniyah Hidayatul Muttaqien telah dipercaya oleh masyarakat, hal ini dapat dilihat dari keberadaan murid yang semakin bertambah banyak dan telah berhasil mencetak generasi muslim / alumni yang berkualitas dan tampil sebagai pemimpin dan Pembina keagamaan sejumlah tempat di masyarakat.

VISI DAN MISI

Mewujudkan generasi muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, memiliki kepribadian dan mental yang kuat, serta kehandalan di bidang ilmu agama islam, sehingga hidup mandiri dan mampu tampil sebagai mujahid fisabilillah dalam mengembangkan masyarakatnya kelak


TENAGA PENDIDIK


Tenaga pendidik adalah orang-orang yang ahli di bidangnya untuk mendidik atau mengajar agama islam, yaitu sarjana pendidikan agama islam, lulusan pondok pesantren dan guru-guru agama senior yang telah dikenal dan diakui aktifitas dan kiprahnya di tengah-tengah masyarakat.


KURIKULUM YANG DIGUNAKAN

  1. Kurikulum Departemen Agama (Depag) yang dikembangkan.
  2. Kurikulum Agama Islam yang disusun sendiri oleh YPI Hidayatul Muttaqien, yang diambil dari tulisan tangan asli sang pendiri, yang merupakan buah karya dari pendiri Madrasah Hidayatul Muttaqqien yaitu (Alm. H. Sukaeji Syafruddin) yang Alhamdulullah kini sudah dicetak dan dibukukan dalam berbagai disiplin ilmu agama islam, hal ini digunakan khusus dilingkungan MD Hidayatul Muttaqien dan Insya Allah akan menjadi ciri khas tertentu bagi pengembangan Madrasah Hidayatul Muttaqien sampai pada saat ini dan masa-masa yang akan datang.

SYSTEM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

Untuk merealisasikan kurikulum di atas, Madrasah Diniyah Hidayatul Muttaqien, selain menggunakan system pendidikan modern seperti belajar membaca Al-Qur’an dengan Metode IQRO, juga tetap menggunakan Metode AL-BAGHDADI yaitu MENGEJA dan IMLA’ yang dinilai memiliki sifat DHOBITH (Kekuatan hafalan) juga menulis dan membaca arab latin.

Selain mata pelajaran pokok yaitu membaca Al-Qur’an siswa juga dibekali materi-materi keagamaan lain, di antaranya :

  1. Tafsir Al-Qur’an
  2. Al-Hadits
  3. Aqidah/Akhlak
  4. Fiqih
  5. Tarikh (Sejarah Islam)
  6. Bimbingan Dasar Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, Muhadatsah)
  7. Bimbingan seni Islami (Lagu-lagu Islami,puisi, kalighrafi, Marawis,drama dll)
  8. Muhadhoroh (bimbingan Da’wah / Tausiyah / Da’i cilik)
  9. Praktek Ibadah
  10. Rekta Alam (Rekreasi dan Tadabur Alam)
  11. Senam santri
  12. dll

MASA PENDIDIKAN

  1. Pendidikan selama 4 tahun ( dari kelas I s/d IV) sesuai dengan Program Pendidikan yang ditetapkan Departemen Agama
  2. Kalender Pendidikan (Januari - Desember)
  3. Program Evaluasi (sistim Semester / THB 6 bulan sekali)
  4. Waktu Belajar Pagi - pukul 08.00 s/d 10.00
                                    Sore - pukul 14.30 s/d 16.00


PROGRAM PENGEMBANGAN

Selain Madrasah Diniyah yang telah berdiri cukup lama Thn 1968 yang masih berjalan sampai saat ini, Yayasan Pendidikian Islam Hidayatul Muttaqien juga mengembangkan program pendidikan lain, di antaranya :
  1. Majlis Ta’lim yang anggotanya merupakan Alumni dan gabungan dari majlis-majlis ta’lim di sekitar Madrasah (wilayah Kelurahan. Bambu Apus, Kelurahan. Pamulang Barat, Komp.Perumahan Griya Jakarta Pamulang, Komp.Perumahan Puri Pamulang, dll)
  2. TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang membina anak-anak usia 3 – 5 tahun
  3. Santunan anak-anak Yatim yang merupakan santri Madrasah Hidayatul Muttaqien dan anak yatim yang ada di lingkungan Madrasah
  4. Santunan kaum Dhu’afa. yang merupakan anggota Majlis Ta’lim Hidayatul Muttaqien dan kaum dhu’aga yang ada di lingkungan madrasah
  5. Insya Allah akan Mendirikan kembali SDI (Sekolah Dasar Islam) yang pernah didirikan Th 1997 dan ditutup pada tahun 2004 – karena krisis dana.
  6. Program Pembangunan terus berjalan secara bertahap sesuai dengan dana yang ada.

TABEL.1. ANAK YATIM MADRASAH DINIYAH HIDAYATUL MUTTAQIEN

No.N A M AJENIS KELAMINUMURPENDIDIKAN
1
Bellinda
Perempuan5TK
2AmrisLaki-laki8- SD
3SamsudinLaki-laki83 - SD
4AllizaPerempuan83 - SD
5M. YasinLaki-laki94 - SD
6Mad YasinLaki-laki94 - SD
7Aang AbdullahLaki-laki105 - SD
8Diki SultanLaki-laki105 - SD
9DonnaPerempuan105 - SD
10MayaPerempuan105 - SD
11SutariPerempuan105 - SD
12ClaritaPerempuan116 - SD
13Devi SarahPerempuan116 - SD
14Resna FauziaPerempuan116 - SD
15RiriLaki-laki116 - SD
16DadanLaki-laki121- SMP
17Siti KahdijahPerempuan12- SMP

Baca selanjutnya..

Rabu, 07 Mei 2008

KIAT MENCAPAI KETENANGAN JIWA



Setiap orang pasti menginginkan ketenangan jiwa, karena dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rosul-Nya, Namun yang amat disayangkan adalah, untuk mencapai ketenangan jiwa itu masih banyak orang-orang islam yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak islami, sehingga bukan ketenangan jiwa yang dia dapatkan tapi kegalauan yang dia rasakan, dan yang lebih parah lagi, bukan pahala dan ridho Allah yang dia dapatkan tapi dosa kemusyrikan yang dia dapatkan.

Untuk itu Al-Qur’an telah memberikan resep atau kiat praktis untuk memperoleh ketenangan jiwa tersebut, di antaranya :

Pertama, Zikrullah, dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan dan keadaan., misalnya :

Ketika dalam ketakutan, lalu ingat kepada Allah dengan mengucapkan TA’AWUZ (A’uzubillahiminassyaitonirrojim), insya Allah rasa takut itu akan hilang,
Ketika dalam kesedihan, lalu ingat kepada Allah-bahwa Allah sangat dekat dan selalu mendampingi kita, insya Allah rasa sedih itu akan hilang, sebagaimana kata Allah dalam Al-Qur’an LAA TAHOF WALAA TAHJAN INNALLOOHA MA’ANAA “ Jangan Takut dan jangan Sedih, Sesungguhnya Allah bersama kita”
Ketika berbuat dosa, lalu ingat kepada Allah dengan membaca Istighfar, Insya Allah seseorang akan memperoleh ketenangan jiwa kembali, karena ada harapan bahwa dosa akan diampuni.
Begitupun ketika kita mengalami kesulitan, lalu ingat kepada Allah, bahwa disamping kesulitan pasti akan ada kemudahan, Insya Allah ketenangan akan dapat kita rasakan.

Dengan berzikir, ingat selalu kepada Allah dimanapun, kapanpun, dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, Insya Allah - Allah akan mengantarkan kita untuk mencapai ketenangan jiwa, sebagaimana Firman-Nya :

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah , hati menjadi tentram”(Q.S.Ar-Ra’du : 28).

Kedua, upaya untuk mencapai ketengan jiwa adalah dengan TILAWAH atau membaca, TASMI’ atau mendengar, dan TADABBUR, atau mengkaji Al-Qur’an. Hal ini karena Al-Qur’an merupakan sebaik-baik perkataan, yang bila kita membaca, mendengar dan mengkajinya, niscaya akan menjadi tenang hati kita – itupun manakala kita benar-benar beriman kepada Allah SAW, sebagaimana Firman-Nya :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal (berserah diri) ( Al-Anfal : 2 )

Dengan berbekal jiwa yang tenang itulah, sebagai muslim kita akan mampu menjalani kehidupan ini dengan baik, sebab baik dan tidaknya sesuatu, seringkali berpangkal pada persoalan mental atau jiwa, dan jiwa yang tenang itulah yang akan mendapat panggilan Allah untuk masuk kedalam syurga-Nya, sebagaimana Firman-Nya :

“ Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya, maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam syurga-Ku” (Q.S. Al-Fajr : 27-30)

Semoga bermanfaat, Amin…

Baca selanjutnya..

Senin, 05 Mei 2008

KEWAJIBAN TERHADAP ALLAH DAN BERBUAT BAIK TERHADAP SESAMA MANUSIA (BAGIAN IV)


واعبداللّه ولا تشركو به شيأ وبالوالدين احسانا وبذىلقربى واليتمى والمساكيني والجارذىالقربي والجارالجنب والصّحب بالجنب وابن السّبيل وماماكت ايمانكم انّ اللّه كان مختالا فخو

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua oarng tua (ibu bapakmu), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang sombong dan membangga-banggaka diri” (Q.S. An-Nisa 36)

Berbuat Baik Kepada Anak Yatim

Anak yatim adalah orang yang harus dilindungi jiwa dan hartanya dan itu adalah tanggung jawab kita semua sebagai orang-orang yang beriman, sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Ma’un, “

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?, itulah orang yang menghardik anak yatim”

Menghardik anak yatim mempunyai makna yang cukup luas di antaranya, menyakiti pisiknya, menyakiti perasaannya, memakan hartanya dan tidak perduli dengan kehidupannya. Oleh karena itu jangan sampai kita termasuk orang yang mendustkan agama, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam rangka berbuat baik kepada anak yatim,di antaranya:

Pertama: mengasuhnya, Rosululah SAW bersabda :

“Saya bersama orang yang mengasuh anak yatim dalam surga seperti ini” (Beliau mengisyaratkan yaitu seperti telunjuk dan jari tengah – (H.R Bukhari)

Hidup berdampingan dengan Rosulullah di dalam syurga adalah menjadi dambaan muslim, dan jalan menuju kearah itu adalah dengan ikhlas mengasuh anak yatim baik dirinya maupun hartanya, idealnya anak yatim lebih baik diasuh dalam suatu rumah tangga supaya ia merasakan limpahan kasih sayang dari orang tua asuhnya, sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

“ Rumah yang paling disukai oleh Allah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan biak, (H.R Al-Baihaqi)

Dari hadits di atas dapat difahami, bahwa anak yatim akan membawa berkah dalam suatu rumah tangga apabila ia diperlakukan dengan baik. Sebaliknya suatu rumah tangga akan mendapat petaka apabila anak yatim yang berada di dalamnya diperlakukan dengan tidak baik.

Kedua, menjaga Hartanya,

Anak yatim memerlukan perawatan, pemeliharaan dan perlindungan dari orang yang bertanggung jawab sebagai pengganti orang tuanya. Kewajiban para wali/karib kerabat atau ummat islam pada umumnya, tidak hanya membantunya bila anak yatim itu tidak punya, tetapi juga menyelamatkan hartanya, bila ada peninggalan orang tuanya, sebagaimana Allah memperingatkan dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zolim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. Dan mereka akan masuk kedalam api yang menyala-nyla (neraka)” (An-Nisa : 10)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

“Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang baik (bermanfaat), sehingga sampai ia dewasa…” ( Al-An’am : 152)”

Di dalam ayat di atas dilarang untuk mendekati harta anak yatim, sebab kalau sudah dekat biasanya ada kecenderungan untuk memilikinya dengan segala macam cara. Tindakan preventif dalam agama islam lebih diutamakan, sebagaimana kita lihat mengenai masalah Zina dalam surat Al-Isra : 32, yang artinya “Dan janganlah kamu dekati Zina…” Dekatpun tidak boleh, apalagi melakukannya, sikap kita tehadap orang tua dalam surat Al-isra “ 23, yang artinya : “ Dan janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah….” Berkata ah.. saja tidak boleh apalagi memukulnya atau menyakitinya. Begitu juga halnya dengan harta anak yatim, dilarang mendekatinya apalagi memakannya.

Ketiga, menyantuninya:

Meskipun kita tidak memeliharanya secara langsung dalam rumah tangga kita, paling tidak kita membantu biaya kehidupannya (seperti biaya makan atau biaya pendidikannya) baik diberikan secara langsung melalu dirinya atau keluarganya maupun melalui media atau yayasan yang telah kita percaya seperti 9program orang tua asuh) dsb, Sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

“Apakah engkau senang bila hatimu lunak dan dapat terkabul apa yang engkau harapkan? Kasihanilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu, niscaya hatimu lunak dan terkabulah apa yang enghkau harapkan." (H.R Thabrani)
Baca selanjutnya..

Rabu, 23 April 2008

PRINSIP MENCARI RIZKI



Dalam pembahasan yang lalu yaitu dalam materi MENCARI NAFKAH IBADAH ? disana telah dijelaskan, bahwa alangkah beruntungnya orang yang sibuk mencari nafkah tapi dia masih bisa membagi waktu untuk ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan lainnya, dan alangkah ruginya orang yang sibuk mencari nafkah tapi meninggalkan kewajiban ibadah. Kali ini saya mengajak untuk memahami bagaimana kita menyikapi rizki yang telah kita peroleh, jadi bagaimana sih prinsip mencari rizkinya orang yang beriman?

Bagi orang yang mendapatkan rizki melalui jalan yang salah, seperti korupsi, manipulasi dan sebagainya, walaupun dengan kekayaan itu pada zohirnya dia tampak merasakan kehidupan yang enak, kita lihat mobilnya mewah, rumahnya megah, hartanya berlimpah dsb, tapi pasti batinnya akan merasakan gelisah alias tidak tenang. Sudah banyak contoh yang bisa kita lihat – pejabat yang terhormat - eehh..tiba-tiba dia ditangkap , di demo oleh rakyatnya, diadili dsb, lucukan? Harta berlimpah tapi tidur di dalam penjara, dihina pula dihujat pula, dalam kondisi seperti itu apa ia - dia tentram hatinya? Apa ia – akan bahagia keluarganya?...sekalipun tidak ketahuan atau tidak tertangkap tapi perasaan hati kecilnya sedikit atau banyak akan merasakan kegelesihan juga, rasa was-was itu pasti ada, kalau tidak takut ketahuan oleh manusia paling tidak rasa bersalah dan berdosa itu pasti ada.

Berbeda halnya dengan orang yang hidup dari rizki yang halal, walaupun rizki itu istilahnya hanya sekedar tangkal hidup – dicari pagi dimakan sore – siang dapat malam habis, pas-pasan lah istilahnya, tapi apa yang dia dapat dan dia makan dapat dipertanggung jawabkan di dunia dan di hadapan Allah SWT kelak di akherat, kalau dia pandai bersyukur, Insya Allah jiwanya akan tentram. Karenanya, bagi orang yang beriman prinsip mencari rizkinya bukan yang penting dapat tapi yang penting halal, bukan yang penting banyak tapi yang penting berkah. Untuk apa dapat rizki kalau tidak halal, dan untuk apa banyak rizki tapi tidak berkah. Nah… Rizki yang halal dan berkah inilah yang harus kita cari, syukur-syukur rizki yang kita dapat itu banyak, Halal dan berkah, dan Insya Allah Allah akan memberinya sebagaimana janjinya dalam surat Al-Haj ayat 50 :

“Adapun orang-orang yang beriman dan ber’amal soleh, maka bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia “ (Q.S. Al-Haj : 50)


برك الله لي ولكم

Semoga bermanfaat untuk semua, Amin… Baca selanjutnya..

Senin, 21 April 2008

KEWAJIBAN TERHADAP ALLAH
DAN BERBUAT BAIK TERHADAP SESAMA MANUSIA
(BAGIAN III)



واعبداللّه ولا تشركو به شيأ وبالوالدين احسانا وبذىلقربى واليتمى والمساكيني والجالرذىالقربي والجارالجنب والصّحب بالجنب وابن السّبيل وماماكت ايمانكم انّ اللّه كان مختالا فخورا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua oarng tua (ibu bapakmu), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang sombong dan membangga-banggaka diri” (Q.S. An-Nisa 36)
Berbuat baik kepada karib kerabat

Kerabat atau famili ialah orang-orang yang ada hubungan darah dengan kita, baik yang berhak menerima harta warisan maupun yang tidak berhak menerima harta warisan. Oleh karena itu orang sering menyebutnya bahwa orang yang berhak menerima harta warisan dinamakan kerabat (kerabat dekat), sedangkan yang tidak berhak menerima warisan dinamakan famili (kerabat jauh).

Kewajiban seseorang terhadap kerabatnya adalah berusaha untuk selalu berbuat baik dan mengadakan hubungan silturahmi serta menyelesaikan segala sesuatu yang mereka hajati, saling menolong dan melindungi dari kejahatan yang akan menimpa mereka.

Dasar dalam membicarakan masalah kerabat atau famili ini di antaranya ialah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 36 di atas dan hadits-hadits Rosulullah SAW, di antaranya :

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia pererat hubungan kekerabatannya” (H.R.Muttafaq ‘Alaih)

Kewajiban-kewajiban kita terhadap kerabat dan famili dapat disimpulkan sebagai berikut,

Pertama
, Membantu dalam masalah harta, sebagaimana sabda Rosulullah SAW :

“Perumpamaan dua orang yang bersaudara itu adalah seperti dua belah tangan, yang sebelah membersihkan yang sebelah lagi “ (H.R.Abu Nu’aim)

Menolong dengan harta adakalanya dengan membantu memberi belanja dengan kemampuan kita sendiri, hal ini bukan saja berarti menolong orang yang dalam kesusahan, tapi juga mempererat hubungan persaudaraan, dan adakalanya hanya turut menjaga agar kerabat atau famili kita tidak bersikap boros.

Kedua, Membantu kerabat dengan tenaga dan pikiran. Cara seperti ini banyak dilakukan oleh masyarakat kita terutama masyarakat pedesaan, meraka mengerjakan sawah atau membuat rumah secara bergotong royong. Apabila terhadap tetangga kita dianjurkan untuk membantu tenaga atau fikiran, maka membantu kerabat atau famili tentu lebih diutamakan.

Ketiga, menghindarkan diri dari perkataan dan perbuatan yang dapat menyinggung dan menyakiti hati mereka, karenanya kita wajib menjauhkan diri dari sifat sombong mengumpat, menghina, dan menceritakan kejelekan mereka dsb. Sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

“Bertawadulah kamu supaya tidak ada seorangpun yang menganiaya orang lain” ( H.R Abu Daud)

Keempat, jangan memutuskan hubungan tegur sapa lebih dari tiga hari, hal ini dilarang oleh agama, sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Apabila lewat dari tiga hari kemudian berjumpa, maka hendaklah memberi salam. Jika pemberian salam itu dijawab, maka kedua-duanya mendapat pahala. Dan jika salam itu tidak dijawab, maka terlepaslah dosa bagi si muslim yang memberi salam, sedangkan dosanya terlepas bagi muslim yang tidak menjawan salam”. ( H.R. Bukhari)

Kelima, kerabat adalah keluarga kita juga, maka kita mempunyai kewajiban untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan menjaga kehormatan keluarga. Firman Allah :

“ Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Q.S. At-Tahrim : 6 )

Amin…
Baca selanjutnya..
PERBANYAKLAH BERAMAL



Baca selanjutnya..

Jumat, 18 April 2008

PERBANYAKLAH TAUBAT




Tidak ada rasanya manusia yang tidak punya salah dan dosa dalam hidup ini, semua manusia pasti punya dosa, baik salah atau dosa kepada sesama manusia, kepada makhluk lain, apalagi dosa kepada Allah SWT, sehingga Rosulullah SAW sendiri mengatakan :

“Setiap anak Adam (manusia) pasti punya salah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah, adalah orang yang bertaubat kepada tuhannya”.

Ada dua tempat dimana kita harus bertaubat kepada Allah,

Pertama
, ketika khilaf melakukan perbuatan dosa, sebagaimana Firman Allah,
“Dan orang-orang yang apabila mereka melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu mohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, siapa lagi yang dapat megampuni dosa selain Allah ? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Q.S. Ali Imran 135).

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa bertaubat kepada Allah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh yaitu dengan jalan, pertama Sesegera mungkin jangan ditunda-tunda (hari itu kita berdosa, ketika itu juga kita bertaubat), Kedua perbanyak membaca Istighfar Mohon ampun kepada Allah dan yang ketiga berjanji untuk tidak melakukan lagi perbuatan dosa yang pernah kita lakukan. Inilah yang kemudian disebut dengan Taubat Nasuha, sebagaimana Firman Allah dalam Q.S At-Tahrim : 8 )

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan Taubat Nasuha (taubat yang sebenar-benarnya), niscaya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu…”

Rosulullah SAW sendiri, hamba Allah yang sangat mulia dan sudah mendapat jaminan syurga, Istighfarnya tidak kurang dari 70 kali sehari bahkan 100 kali sehari, begitu dengan Rosulullah SAW, lalu bagaimana dengan kita???...

Oleh karena itu selama hayat masih di kandung badan, selama jantung masih berdetak jangan menunda-nuda waktu untuk bertaubat :
Sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya seorang hamba, selama nyawanya belum sampai ditenggorokan”

Kedua, dimana kita harus bertaubat kepada Allah, adalah ketika kita melihat, mendengar, menyaksikan atau bahkan merasakan adanya musibah atau bencana yang terjadi, terlepas apakah musibah atau bencana itu ujian, peringatan ataukan azab Allah? Terlepas apakah musibah itu karena hukum alam - alam yang sudah mulai tua atau karena memang karena ulah manusia itu sendiri sehingga terjadi kerusakan dimana-mana, yang pasti apapun bentuknya musibah atau bencana yang datang, tidak akan terjadi tanpa seizin Allah, karenanya perbanyaklah bertaubat kepada Allah, Insya Allah kita akan menjadi hamba Allah yang dicintainya

“Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang suka bertaubat dan mensucikan diri”

Amin…
Baca selanjutnya..