Rabu, 23 April 2008

PRINSIP MENCARI RIZKI



Dalam pembahasan yang lalu yaitu dalam materi MENCARI NAFKAH IBADAH ? disana telah dijelaskan, bahwa alangkah beruntungnya orang yang sibuk mencari nafkah tapi dia masih bisa membagi waktu untuk ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan lainnya, dan alangkah ruginya orang yang sibuk mencari nafkah tapi meninggalkan kewajiban ibadah. Kali ini saya mengajak untuk memahami bagaimana kita menyikapi rizki yang telah kita peroleh, jadi bagaimana sih prinsip mencari rizkinya orang yang beriman?

Bagi orang yang mendapatkan rizki melalui jalan yang salah, seperti korupsi, manipulasi dan sebagainya, walaupun dengan kekayaan itu pada zohirnya dia tampak merasakan kehidupan yang enak, kita lihat mobilnya mewah, rumahnya megah, hartanya berlimpah dsb, tapi pasti batinnya akan merasakan gelisah alias tidak tenang. Sudah banyak contoh yang bisa kita lihat – pejabat yang terhormat - eehh..tiba-tiba dia ditangkap , di demo oleh rakyatnya, diadili dsb, lucukan? Harta berlimpah tapi tidur di dalam penjara, dihina pula dihujat pula, dalam kondisi seperti itu apa ia - dia tentram hatinya? Apa ia – akan bahagia keluarganya?...sekalipun tidak ketahuan atau tidak tertangkap tapi perasaan hati kecilnya sedikit atau banyak akan merasakan kegelesihan juga, rasa was-was itu pasti ada, kalau tidak takut ketahuan oleh manusia paling tidak rasa bersalah dan berdosa itu pasti ada.

Berbeda halnya dengan orang yang hidup dari rizki yang halal, walaupun rizki itu istilahnya hanya sekedar tangkal hidup – dicari pagi dimakan sore – siang dapat malam habis, pas-pasan lah istilahnya, tapi apa yang dia dapat dan dia makan dapat dipertanggung jawabkan di dunia dan di hadapan Allah SWT kelak di akherat, kalau dia pandai bersyukur, Insya Allah jiwanya akan tentram. Karenanya, bagi orang yang beriman prinsip mencari rizkinya bukan yang penting dapat tapi yang penting halal, bukan yang penting banyak tapi yang penting berkah. Untuk apa dapat rizki kalau tidak halal, dan untuk apa banyak rizki tapi tidak berkah. Nah… Rizki yang halal dan berkah inilah yang harus kita cari, syukur-syukur rizki yang kita dapat itu banyak, Halal dan berkah, dan Insya Allah Allah akan memberinya sebagaimana janjinya dalam surat Al-Haj ayat 50 :

“Adapun orang-orang yang beriman dan ber’amal soleh, maka bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia “ (Q.S. Al-Haj : 50)


برك الله لي ولكم

Semoga bermanfaat untuk semua, Amin… Baca selanjutnya..

Senin, 21 April 2008

KEWAJIBAN TERHADAP ALLAH
DAN BERBUAT BAIK TERHADAP SESAMA MANUSIA
(BAGIAN III)



واعبداللّه ولا تشركو به شيأ وبالوالدين احسانا وبذىلقربى واليتمى والمساكيني والجالرذىالقربي والجارالجنب والصّحب بالجنب وابن السّبيل وماماكت ايمانكم انّ اللّه كان مختالا فخورا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua oarng tua (ibu bapakmu), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang sombong dan membangga-banggaka diri” (Q.S. An-Nisa 36)
Berbuat baik kepada karib kerabat

Kerabat atau famili ialah orang-orang yang ada hubungan darah dengan kita, baik yang berhak menerima harta warisan maupun yang tidak berhak menerima harta warisan. Oleh karena itu orang sering menyebutnya bahwa orang yang berhak menerima harta warisan dinamakan kerabat (kerabat dekat), sedangkan yang tidak berhak menerima warisan dinamakan famili (kerabat jauh).

Kewajiban seseorang terhadap kerabatnya adalah berusaha untuk selalu berbuat baik dan mengadakan hubungan silturahmi serta menyelesaikan segala sesuatu yang mereka hajati, saling menolong dan melindungi dari kejahatan yang akan menimpa mereka.

Dasar dalam membicarakan masalah kerabat atau famili ini di antaranya ialah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 36 di atas dan hadits-hadits Rosulullah SAW, di antaranya :

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia pererat hubungan kekerabatannya” (H.R.Muttafaq ‘Alaih)

Kewajiban-kewajiban kita terhadap kerabat dan famili dapat disimpulkan sebagai berikut,

Pertama
, Membantu dalam masalah harta, sebagaimana sabda Rosulullah SAW :

“Perumpamaan dua orang yang bersaudara itu adalah seperti dua belah tangan, yang sebelah membersihkan yang sebelah lagi “ (H.R.Abu Nu’aim)

Menolong dengan harta adakalanya dengan membantu memberi belanja dengan kemampuan kita sendiri, hal ini bukan saja berarti menolong orang yang dalam kesusahan, tapi juga mempererat hubungan persaudaraan, dan adakalanya hanya turut menjaga agar kerabat atau famili kita tidak bersikap boros.

Kedua, Membantu kerabat dengan tenaga dan pikiran. Cara seperti ini banyak dilakukan oleh masyarakat kita terutama masyarakat pedesaan, meraka mengerjakan sawah atau membuat rumah secara bergotong royong. Apabila terhadap tetangga kita dianjurkan untuk membantu tenaga atau fikiran, maka membantu kerabat atau famili tentu lebih diutamakan.

Ketiga, menghindarkan diri dari perkataan dan perbuatan yang dapat menyinggung dan menyakiti hati mereka, karenanya kita wajib menjauhkan diri dari sifat sombong mengumpat, menghina, dan menceritakan kejelekan mereka dsb. Sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

“Bertawadulah kamu supaya tidak ada seorangpun yang menganiaya orang lain” ( H.R Abu Daud)

Keempat, jangan memutuskan hubungan tegur sapa lebih dari tiga hari, hal ini dilarang oleh agama, sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Apabila lewat dari tiga hari kemudian berjumpa, maka hendaklah memberi salam. Jika pemberian salam itu dijawab, maka kedua-duanya mendapat pahala. Dan jika salam itu tidak dijawab, maka terlepaslah dosa bagi si muslim yang memberi salam, sedangkan dosanya terlepas bagi muslim yang tidak menjawan salam”. ( H.R. Bukhari)

Kelima, kerabat adalah keluarga kita juga, maka kita mempunyai kewajiban untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan menjaga kehormatan keluarga. Firman Allah :

“ Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Q.S. At-Tahrim : 6 )

Amin…
Baca selanjutnya..
PERBANYAKLAH BERAMAL



Baca selanjutnya..

Jumat, 18 April 2008

PERBANYAKLAH TAUBAT




Tidak ada rasanya manusia yang tidak punya salah dan dosa dalam hidup ini, semua manusia pasti punya dosa, baik salah atau dosa kepada sesama manusia, kepada makhluk lain, apalagi dosa kepada Allah SWT, sehingga Rosulullah SAW sendiri mengatakan :

“Setiap anak Adam (manusia) pasti punya salah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah, adalah orang yang bertaubat kepada tuhannya”.

Ada dua tempat dimana kita harus bertaubat kepada Allah,

Pertama
, ketika khilaf melakukan perbuatan dosa, sebagaimana Firman Allah,
“Dan orang-orang yang apabila mereka melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu mohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, siapa lagi yang dapat megampuni dosa selain Allah ? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Q.S. Ali Imran 135).

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa bertaubat kepada Allah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh yaitu dengan jalan, pertama Sesegera mungkin jangan ditunda-tunda (hari itu kita berdosa, ketika itu juga kita bertaubat), Kedua perbanyak membaca Istighfar Mohon ampun kepada Allah dan yang ketiga berjanji untuk tidak melakukan lagi perbuatan dosa yang pernah kita lakukan. Inilah yang kemudian disebut dengan Taubat Nasuha, sebagaimana Firman Allah dalam Q.S At-Tahrim : 8 )

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan Taubat Nasuha (taubat yang sebenar-benarnya), niscaya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu…”

Rosulullah SAW sendiri, hamba Allah yang sangat mulia dan sudah mendapat jaminan syurga, Istighfarnya tidak kurang dari 70 kali sehari bahkan 100 kali sehari, begitu dengan Rosulullah SAW, lalu bagaimana dengan kita???...

Oleh karena itu selama hayat masih di kandung badan, selama jantung masih berdetak jangan menunda-nuda waktu untuk bertaubat :
Sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya seorang hamba, selama nyawanya belum sampai ditenggorokan”

Kedua, dimana kita harus bertaubat kepada Allah, adalah ketika kita melihat, mendengar, menyaksikan atau bahkan merasakan adanya musibah atau bencana yang terjadi, terlepas apakah musibah atau bencana itu ujian, peringatan ataukan azab Allah? Terlepas apakah musibah itu karena hukum alam - alam yang sudah mulai tua atau karena memang karena ulah manusia itu sendiri sehingga terjadi kerusakan dimana-mana, yang pasti apapun bentuknya musibah atau bencana yang datang, tidak akan terjadi tanpa seizin Allah, karenanya perbanyaklah bertaubat kepada Allah, Insya Allah kita akan menjadi hamba Allah yang dicintainya

“Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang suka bertaubat dan mensucikan diri”

Amin…
Baca selanjutnya..
KLIPING ARTIKEL HARIAN KOMPAS


Baca selanjutnya..



MENCARI NAFKAH IBADAH ?


Seandainya kita mau menghayati aktifitas kehidupan ini, ternyata sangat banyak aktifitas kita yang dapat bernilai ibadah, tidak hanya shalat, puasa, zakat, pergi haji, membaca Al-Qur’an saja, tapi aktifitas lainnya pun Insya Allah dapat bernilai ibadah, contohnya “Mencari Nafkah”

Alangkah beruntungnya orang yang pergi pagi pulang petang kadang malam bahkan terkadang jauh dari keluarga, tapi dia masih punya iman- ketika datang waktu shalat dia shalat, ketika datang waktu puasa dia puasa-ketika datang perintah zakat dia keluarkan zakatnya – orang yang seperti inilah Insya Allah termasuk orang yang beruntung karena dia mampu membagi waktunya untuk ibadah kepada Allah, bahkan mencari nafkah itu sendiri adalah bagian dari ibadah, sebagaimana Rosulullah SAW bersabda :

من امسى كالا من عمل يده مغفوراله

Orang yang kecapean / kelelahan di malam harinya karena mencari nafkah disiang harinya, Allah akan ampuni dosanya.

Belum lagi aktifitas kita yang lain yang selalu diiringi dengan zikir dan do’a, mau tidur kita baca do’a, bangun tidur kita baca do’a, mau makan kita baca do’a, selesai makan kita baca do’a, keluar rumah, naik kendaraan kita baca do’a ketika di jalan macet kita hiasi bibir kita dengan zikir, dsb subhanallah …sungguh banyak nilai ibadah yang kita dapatkan setiap harinya, untuk itulah sebetulnya Allah menciptakan kita dalam hidup ini.

وما خلقت الجنّ واﻷنس الاّ ليعبدون

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaku” (Az-Zariyat:56)

Bahkan untuk dapat berjumpa dengan Allah kelak di akherat, tergantung sejauh mana amal ibadah kita yang telah kita kerjakan selama ini, sebagaimana firman-Nya :


فمن كان يرجو لقاء ربّه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربّه احدا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Allah, maka hendaklah ia mengerjakan ‘amal sholeh, dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya”(Q.S.Al-Kahfi:10)

Dan alangkah ruginya orang yang pergi pagi pulang petang kadang malam lembur katanya bahkan jauh dari keluarga- tapi yang dia kejar hanya materi dan materi, uang dan uang lagi, perintah-perintah Allah seringkali dia abaikan – orang yang seperti ini kata Al-Imam Ghazali Syaqiyyun Fiddunya Wasyaqiyyun Fil-akhirah “ Sudah susah di dunia susah pula di akherat. Padahal, bagaimanapun nikmatnya kita hidup didunia suatu saat pasti akan berakhir juga, kita semua akan kembali kepada sang pencipta Allah SWT, dan ketika kembali kepada Allah, apa yang akan kita bawa???....

Bukan berarti orang islam tidak boleh kaya, tidak boleh sibuk – jutru orang islam itu harus kaya dan harus rajin, sebab kalau miskin repot dan bisa ngerepotin yang lain, masalahnya sekarang bukan kaya atau miskin, siapapun kita yang penting adalah pandai-pandailah membagi waktu, mana untuk dunia dan mana untuk akherat – kalau seimbang kan enak, seperti shalat, berapa lamanya sih kita mengerjakan shalat? Paling juga 10 menit, padahal 24 jam Allah memberikan kita waktu, dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat bagaimana tukang ojek, sopir angkot, buruh bangunan ketika orang lain pergi shalat jum’at, eeh…dia masih saja bekerja, inilah barangkali yang pernah disinggung oleh Imam Ghazali Syaqiyyun Fiddunya Wasyaqiyyun Fil-akhirah “ Sudah Susah di dunia susah pula di akherat, Puasa - berapa lamanya sih kita puasa? – cuma dari pagi sampai sore, sementara orang lain banyak yang kelaparan setiap harinya, Zakat berapa sih besarnya kita membayar zakat? hanya 2,5 % dari penghasilan kita, padahal penghasilan kita besar dan diluar sana banyak orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita, hadir di majlis ta’lim atau kumpul dengan keluarga di rumah untuk mengaji atau belajar ilmu agama, untuk setiap hari barangkali memang tidak mungkin, tapi paling tidak seminggu sekali lah atau sebulan sekali, kalau alasannya selalu sibuk , semua orang pasti punya kesibukan masing-masing, dan yang namanya kesibukan itu tidak akan pernah berhenti, bahkan sampai kita mati, tapi kalau kita pandai membagi waktu Insya Allah kita termasuk orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah :

والعصر انّ ﻻنسان لفي ﺧسر الاّالّذين امنوا وعملوﺍ الصّالحات وتوا صوبالحقّ وتوا صوبالصّبر

“ Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan ber’amal soleh, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam kesabaran” ( Q.S. Al’Ashr 1 – 3 ).

Semoga kita menjadi orang yang selalu beribadah, seluruh aktifitas kita dari pagi, siang, sore, malam - dari kita bangun tidur sampai tidur lagi, termasuk kegiatan kita dalam mencari nafkah, semuanya bernilai ibadah , Amin…

Baca selanjutnya..
KEWAJIBAN TERHADAP ALLAH
DAN BERBUAT BAIK TERHADAP SESAMA MANUSIA
(BAGIAN I)




واعبداللّه ولا تشركو به شيأ وبالوالدين احسانا وبذىلقربى واليتمى والمساكيني والجالرذىالقربي والجارالجنب والصّحب بالجنب وابن السّبيل وماماكت ايمانكم انّ اللّه كان مختالا فخورا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua oarng tua (ibu bapakmu), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang sombong dan membangga-banggaka diri” (Q.S. An-Nisa 36)

Larangan Menyekutukan Allah

Menyekutukan Allah adalah perbuatan syirik, adapun orang yang melakukannya di sebut musyrik. Perbuatan syirik ada dua macam yaitu:

Pertama
Syirik besar, apa itu syirik besar? Syirik besar adalah menjadikan benda-benda tertentu sejajar dengan Allah untuk disembah seperti, batu, pohon, kuburan, patung, matahari, bulan dsb. Penyembahan kepada yang disebutkan itu adalah syirik yang besar yang tidak dapat diampuni dosanya, sebagaimana Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya, barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar, (Q.S. An-Nisa : 48)

Kedua, Syirik kecil, apa itu syirik kecil? Syirik kecil adalah Riya’ yaitu memperlihatkan amal ibadahnya kepada orang lain, beribadah karena tujuan tertentu seperti ingin dipuji, ingin dianggap paling soleh, paling dermawan, dsb, padahal ketika ia beribadah sendirian tidak demikian, Rosulullah SAW bersabda :

“Hati-hatilah melakukan syirik kecil itu, para sahabat bertanya, apakah syirik kecil itu ya Rosulullah?, jawab beliau : “Riya” nanti Allah akan berkata pada hari pembalasan bagi hamba mengenai ‘amal-amal mereka itu, pergilah kamu kepada orang-orang yang kamu perlihatkan amal-amal kamu kepada mereka itu sewaktu di dunia, perhatikanlah, apakah kamu mendapat balasan dari mereka itu” (H.R. Ahmad)

Oleh karena itu kunci Ibadah adalah Ikhlas, semata–mata karena Allah, karena ‘amal yang dikerjakan dengan tidak ikhlas , tidak sedikitpun mendapat imbalan dari Allah, alias sia-sia saja, sebagaimana firman Allah :

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yasng berterbangan” (Al-Furqon : 23)

semoga kita ikhlas dalam ber’amal dan terhindar dari sifat-sifat syirik, Amin…
Baca selanjutnya..



KEWAJIBAN TERHADAP ALLAH DAN BERBUAT BAIK TERHADAP SESAMA MANUSIA

(BAGIAN II)

واعبداللّه ولا تشركو به شيأ وبالوالدين احسانا وبذىلقربى واليتمى والمساكيني والجالرذىالقربي والجارالجنب والصّحب بالجنب وابن السّبيل وماماكت ايمانكم انّ اللّه كان مختالا فخورا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua oarng tua (ibu bapakmu), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S. An-Nisa 36)

Berbuat baik kepada kedua orang tua

Orang tua kita adalah orang yang sangat besar jasanya kepada kita. Keduanya telah menanggung segala derita dan kesulitan dalam memelihara dan membesarkan kita. Ibu kita telah mengalami penderitaan dan kepayahan dalam mengandung kita selama kurang lebih sembilan bulan lamanya. Dan setelah kita lahir ke dunia, kita dirawatnya dengan segala kasih sayang, sampai dewasa.
Oleh karena itu islam telah mengajarkan prinsip-prinsip akhlak yang wajib diamalkan oleh anak terhadap orang tuanya, prinsip-prinsip itu adalah :
  1. Ihsan, Yaitu berbuat baik kepada orang tua, setiap anak wajib berbuat baik kepada kedua orang tuanya, sebagaimana firman Allah SWT :

    “Dan Allah telah memerintahkan supayan kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…. (Al-Isra : 23)
  2. Berkata dengan lemah lembut, Allah memerintahkan kepada kita agar berkata dengan lemah lembut kepada orang tua, dan jangan sekali-kali kita membentaknya, Firman Allah SWT:


    “…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentaknya, dan berkatalah kepada keduanya dengan ucapan yang mulia “ (QS.Al-Isra, 23)
  3. Merendah hati, yang dimaksud dengan merendah hati adalah, merendahkan diri kita dihadapan orang tua, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan,. sekalipun kita sudah dewasa serta memiliki banyak ilmu dan harta, dibandingkan dengan orang tua kita, Firman Allah SWT :


    “Dan rendahkanlah dirimu terhadap diri mereka berdua dengan penuh kesayangan… (Al-Isra, : 24)
  4. Berterima kasih, Allah memerintahkan kepada kita agar kita mau berterima kasih kepada kedua orang tua, sebab karena merekalah kita lahir di dunia. Firman Allah SWT,


    “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapinya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua ibu bapakmu.Hanya kepadakulah kamu kembali” (Q.S.Lukman : 14)
  5. Memohonkan ampun, Allah memerintahkan kepada kita agar kita selalu mendo’akan kedua ibu bapak kita, Firman Allah SWT :


    “Dan do’akanlah kepada keduanya : Wahai tuhanku, kasihanilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidik aku di waktu kecil” (Al-Isra : 24)
  6. Berbakti sesudah orang tua meninggal dunia, Walaupun salah satu atau kedua orang tua kita telah meninggal dunia, kita tetap wajib berbakti kepada keduanya, Rosulullah SAW bersabda :


    “Dari Malik As-Saidi berkata : Ketika kami duduk bersama Rosulullah SAW, datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah, dia bertanya kepada Nabi: “Ya Rosulullah, apakah masih ada yang dapat saya lakukan untuk berbakti kepada orang tuaku sesudah mereka meninggal dunia? “ Rosulullah menjawab: Ada, yaitu mendo’akan keduanya, memintakan ampun bagi keduanya, melaksanakan janji keduanya, dan menyambungkan hubungan silaturahmi, yang tidak mungkin tersambung kecuali dengan keduanya, dan memuliakan teman-temannya.”(H.R.Abu Daud, Ibnu Malik dan Ibnu Hibban).
Ada satu cerita yang amat menarik yang pernah terjadi di zaman Rosulullah SAW, yaitu seorang anak yang bernama Al-Qomah yang kurang memperhatikan ibunya yang sudah tua renta.
Al-Qomah ialah orang yang sangat taat kepada Allah, rajin shalat, tekun puasa dan dermawan pula. Pada suatu ketika dia jatuh sakit yang amat parah, dalam keadaan tidak lagi berdaya/sekarat istrinya disuruh menghadap Rosulullah SAW dan menyampaikan kepada beliau bahwa suaminya dalam keadaan sekarat. Kemudian Rosulullah SAW mengutus Ammar, Suhaib dan Bilal untuk menjenguknya dan diingatkan supaya Al-Qomah mengucapkan kalimat "Lailaha Ilallah" Setelah ketiganya sampai ke tempat Al-Qomah, memang benar ternyata dia dalam keadaan sekarat. Kalimat Thoyyibah itupun diingatkan atau diajarkan, tetapi lidah Al-Qomah kaku membisu tidak mampu mengucapkannya.Berita ini disampaikan kepada Rosulullah SAW, lalu beliau bertanya “ Apakah di antara kedua orang tuanya masih ada yang hidup? “Ada ibunya yang sudah tua renta ya Rosulullah, jawab mereka”. Kemudian Rosulullah mengirim utusan untuk menemui ibu Al-Qomah dan dapat menghadap beliau kalau memungkinkan atau dapat menunggu di tempat, kemudian beliaupun (Rosulullah SAW) datang “Sayalah yang lebih pantas datang menghadapmu ya Rosulullah” kata ibu Al-Qomah sambil mengambil tongkatnya. Kemudian Rosulullah SAW bertanya kepada ibunya: “Bagaimana keadaan Al-Qomah?, “Dia rajin shalat, rajin puasa dan banyak bersedekah” kata ibunya. Lalu bagaimana ibu mengurusi diri sendiri? Tanya Rosulullah, Saya sebenarnya sangat marah ya Rosulullah, kata ibunya, kenapa? Tanya Rosulullah.”Dia lebih mementingkan istrinya dan mengabaikan saya ya Rosulullah, jawab ibunya” Oh…rupanya inilah yang menjadi penyebab Al Qomah tidak dapat mengucapkan kalimat "Lailaha illallah" Kata Rosulullah.
Kemudian Rosulullah memerintahkan Bilal untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak- banyaknya. Apa yang akan anda lakukan ya Rosulullah? Kata ibunya.”Saya akan membakar Al Qomah di hadapan ibu , kata Rosulullah “ Hati kecilku tak mengijinkan , bila engkau membakarnya di depan mataku ya Rosulullah, sahut ibunya, “tidakkah azab Allah lebih keras dan lebih kekal, kata Rosulullah . Bila hati ibu menginginkan Al Qomah mendapat ampunan dari Allah, maafkanlah kesalahannya, karena tidak ada manfaat shalat, puasa, sedekah Al Qomah selama ibu masih tetap marah kepadanya, kata Rosulullah, “kalau demikian saya relakan dan saya maafkan dia ya Rosulullah”, kata ibunya, Bilal silahkan pergi lihat dan perhatikan Al Qomah, apakah dia sudah mampu mengucapkan kalimat "Lailaha Illallah"atau tidak, kata Rosulullah, apakah ibu Al Qomah tadi berkata sesuai dengan kata hatinya atau tidak kata Rosulullah, Begitu Bilal sampai, didengarnya Al Qomah mengucapkan kalimat ﻻﺍﻟﻪﺍﻻﺍﷲ kemudain Bilal berkata kepada orang banyak: “Kemarahan ibu Al Qomahlah yang menyebabkan lidahnya kaku, dan Ridhonya pula yang menjadikan lidahnya lancar mengucapkan kalimat "Lailaha illallah"

Pada hari itu juga Al Qomah meninggal dunia dan pada saat pemakamannya Rosulullah datang dan mengatakan : “ Hai jamaah Muhajirin dan Anshor, siapa saja yang lebih mengutamakan istrinya dari pada ibunya, maka akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat dan manusia semuanya.Tidak ada jalan lain kecuali segera bertaubat kepada Allah, serta memohon maaf dan Ridho orang tuanya, karena “seseorang akan mendapat ridho Allah apabila orang tuanya ridho kepadanya, dan seseorang akan mendapat murka Allah apabila orang tuanya marah atau murka kepadanya”.

Dari kisah di atas dapat kita pahami, betapa pentingnya kedudukan orang tua di depan seorang anak. Karena orang tua dapat mengantarkannya ke depan pintu gerbang surga karena bakti anaknya itu, dan sebaliknya dapat pula mengantarkannya ke depan pintu neraka karena dia durhaka.

Bagaimanapun taat seorang anak kepada Allah, dan berapapun banyaknya kebajikan yang dia perbuat, tidak dapat membebaskannya dari azab Allah bila hati orang tuanya telah terluka olehnya dan belum terobati dengan jalan meminta maaf dan memohon ridhonya.


Sumber :
Tafsir Al-Qur’an – Depag R,IAqidah Akhlah – PGA Negeri Jakarta 1986, 50 Perbuatan & Prilaku yang Membawa Malapetaka – M.Ali Hasan )

Baca selanjutnya..

Jumat, 11 April 2008

PROFIL MADRASAH DINIYAH HIDAYATUL MUTTAQIEN




LATAR BELAKANG


Madrasah Diniyah Hidayatul Muttaqien didirikan pada tahun 1968 M oleh (Alm) H.E.Sukaeji Syafruddin, di atas tanah seluas 482 m, yang berlokasi di Jln. Lele Raya / Villa Pamulang mas RT 03/05, Kel. Bambu Apus, Kec. Pamulang, Kab. Tangerang.

Dengan memakai pola pengajaran/pembinaan sebagaimana sebuah pondok pesantren, Alhamdulullah, Madrasah Diniyah Hidayatul Muttaqien telah dipercaya oleh masyarakat, hal ini dapat dilihat dari keberadaan murid yang semakin bertambah banyak dan telah berhasil mencetak generasi muslim / alumni yang berkualitas dan tampil sebagai pemimpin dan Pembina keagamaan sejumlah tempat di masyarakat.

VISI DAN MISI

Mewujudkan generasi muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, memiliki kepribadian dan mental yang kuat, serta kehandalan di bidang ilmu agama islam, sehingga hidup mandiri dan mampu tampil sebagai mujahid fisabilillah dalam mengembangkan masyarakatnya kelak


TENAGA PENDIDIK


Tenaga pendidik adalah orang-orang yang ahli di bidangnya untuk mendidik atau mengajar agama islam, yaitu sarjana pendidikan agama islam, lulusan pondok pesantren dan guru-guru agama senior yang telah dikenal dan diakui aktifitas dan kiprahnya di tengah-tengah masyarakat.


KURIKULUM YANG DIGUNAKAN

  1. Kurikulum Departemen Agama (Depag) yang dikembangkan.
  2. Kurikulum Agama Islam yang disusun sendiri oleh YPI Hidayatul Muttaqien, yang diambil dari tulisan tangan asli sang pendiri, yang merupakan buah karya dari pendiri Madrasah Hidayatul Muttaqqien yaitu (Alm. H. Sukaeji Syafruddin) yang Alhamdulullah kini sudah dicetak dan dibukukan dalam berbagai disiplin ilmu agama islam, hal ini digunakan khusus dilingkungan MD Hidayatul Muttaqien dan Insya Allah akan menjadi ciri khas tertentu bagi pengembangan Madrasah Hidayatul Muttaqien sampai pada saat ini dan masa-masa yang akan datang.

SYSTEM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

Untuk merealisasikan kurikulum di atas, Madrasah Diniyah Hidayatul Muttaqien, selain menggunakan system pendidikan modern seperti belajar membaca Al-Qur’an dengan Metode IQRO, juga tetap menggunakan Metode AL-BAGHDADI yaitu MENGEJA dan IMLA’ yang dinilai memiliki sifat DHOBITH (Kekuatan hafalan) juga menulis dan membaca arab latin.

Selain mata pelajaran pokok yaitu membaca Al-Qur’an siswa juga dibekali materi-materi keagamaan lain, di antaranya :

  1. Tafsir Al-Qur’an
  2. Al-Hadits
  3. Aqidah/Akhlak
  4. Fiqih
  5. Tarikh (Sejarah Islam)
  6. Bimbingan Dasar Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, Muhadatsah)
  7. Bimbingan seni Islami (Lagu-lagu Islami,puisi, kalighrafi, Marawis,drama dll)
  8. Muhadhoroh (bimbingan Da’wah / Tausiyah / Da’i cilik)
  9. Praktek Ibadah
  10. Rekta Alam (Rekreasi dan Tadabur Alam)
  11. Senam santri
  12. dll

MASA PENDIDIKAN

  1. Pendidikan selama 4 tahun ( dari kelas I s/d IV) sesuai dengan Program Pendidikan yang ditetapkan Departemen Agama
  2. Kalender Pendidikan (Januari - Desember)
  3. Program Evaluasi (sistim Semester / THB 6 bulan sekali)
  4. Waktu Belajar Pagi - pukul 08.00 s/d 10.00
                                    Sore - pukul 14.30 s/d 16.00


PROGRAM PENGEMBANGAN

Selain Madrasah Diniyah yang telah berdiri cukup lama Thn 1968 yang masih berjalan sampai saat ini, Yayasan Pendidikian Islam Hidayatul Muttaqien juga mengembangkan program pendidikan lain, di antaranya :
  1. Majlis Ta’lim yang anggotanya merupakan Alumni dan gabungan dari majlis-majlis ta’lim di sekitar Madrasah (wilayah Kelurahan. Bambu Apus, Kelurahan. Pamulang Barat, Komp.Perumahan Griya Jakarta Pamulang, Komp.Perumahan Puri Pamulang, dll)
  2. TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang membina anak-anak usia 3 – 5 tahun
  3. Santunan anak-anak Yatim yang merupakan santri Madrasah Hidayatul Muttaqien dan anak yatim yang ada di lingkungan Madrasah
  4. Santunan kaum Dhu’afa. yang merupakan anggota Majlis Ta’lim Hidayatul Muttaqien dan kaum dhu’aga yang ada di lingkungan madrasah
  5. Insya Allah akan Mendirikan kembali SDI (Sekolah Dasar Islam) yang pernah didirikan Th 1997 dan ditutup pada tahun 2004 – karena krisis dana.
  6. Program Pembangunan terus berjalan secara bertahap sesuai dengan dana yang ada.

TABEL.1. ANAK YATIM MADRASAH DINIYAH HIDAYATUL MUTTAQIEN

No.N A M AJENIS KELAMINUMURPENDIDIKAN
1
Bellinda
Perempuan5TK
2AmrisLaki-laki8- SD
3SamsudinLaki-laki83 - SD
4AllizaPerempuan83 - SD
5M. YasinLaki-laki94 - SD
6Mad YasinLaki-laki94 - SD
7Aang AbdullahLaki-laki105 - SD
8Diki SultanLaki-laki105 - SD
9DonnaPerempuan105 - SD
10MayaPerempuan105 - SD
11SutariPerempuan105 - SD
12ClaritaPerempuan116 - SD
13Devi SarahPerempuan116 - SD
14Resna FauziaPerempuan116 - SD
15RiriLaki-laki116 - SD
16DadanLaki-laki121- SMP
17Siti KahdijahPerempuan12- SMP

Baca selanjutnya..

Selasa, 01 April 2008

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

السّلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمدلله ربّ ا لعالمين - نحمده ونستعينه ونستغفره - ونعوذبالله من شرور انفسنا- ومن سيّاءت اعمالنا - من يّهدالله فلا مضلّ له - ومن ّيضلل فلاهاد يله- اشهدان لااله الاالله وحده لا شريك له- واشهد انّ محمّدا عبده ورسوله- اللهمّ صلّ وسلّم على سيّدنا محمّد وعلى اله وصحبه اجمعين, امّا بعد


Begitu banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita, begitu banyak nikmat Allah yang kita rasa, tapi begitu banyak pula nikmat Allah yang kita ingkari, oleh karena itu, ada 3 cara bagaimana seharunya kita mensyukuri nikmat Allah :

Pertama: MENSYUKURI DENGAN QALBU, yaitu dalam bentuk pengakuan bahwa kenikmatan yang kita rasa semata-mata dari Allah, bila ini diingkari, tidak menutup kemungkinan Allah akan mencabut nikmatnya, Allah akan mencabut keberkahannya dan menggantinya dengan Azab, seperti yang terjadi pada kafir Quraisy. mereka mengganti Nikmat Allah yaitu dengan kehadiran Rosulullah SAW tapi mereka mendustakannya, sebagaimana Allah berfirman :

الم تر الى الّذين بدّ لوا نعمت الله كفرا واحلّوا قومهم دا رالبوار

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar Nikmat Allah dengan kekafiran? mereka menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan” (Ibrahim 28)


Kedua : MENSYUKURI DENGAN LISAN, Yaitu dalam bentuk zikir (Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil), sebagaimana Allah berfirman

فاذكروني اذكركم واشكرولى ولا تكفرون

“Ingatlah kamu kepadaku, niscaya aku akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kamu kepadaku-jangan kau ingkari nikmatku”

Selain itu, berterima kasih dan menyebut jasa baik orang lain, seperti orang tua kita, para pahlawan kita, guru-guru kita dengan selalu mendo’akan mereka juga bagian dari rasa syukur kita kepada Allah, sebagaimana sabda Rosulullah SAW:

من لا يشكرالنّاس لايشكرالله

“Orang yg tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”


Ketiga: MENSYUKURI DENGAN PERBUATAN, yaitu dalam bentuk mengisi kehidupan ini dengan kegiatan yang bernilai Ibadah seperti kesehatan yang kita rasa, masa muda yang kita alami, kesempatan yang ada, kekayaan yang kita miliki semunya digunakan untuk kegiatan yang diridhoi Allah, sesuai dengan makna syukur itu sendiri, sebagaimana yg diungkapkan oleh Imam Akhdori,

صرف العبد جميع ما انعم الله عليه الى ما خلق لآجله

Menggunakan Nikmat Allah sesuai pada tempatnya-cocok dengan keinginan Allah, dengan bersyukur, akan banyak hikmah yang akan diberikan Allah, diantaranya

Pertama: Allah akan menambah nikmat-Nya

لئن شكرتم لآزيدنّكم ولئن كفرتم انّ عذابي لشديد

“Jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatku sesungguhnya ‘azabku sangat pedih” (Ibrahim:7)

Kedua : Hikmah bersyukur itu bukan untuk siapa-siapa tapi hikmah bersyukur itu akan kembali kepada orang yang mensyukurinya,

ومن يشكر فانّما يشكر لنفسه ومن كفر فاءنّ الله غنيّ حميد

“Dan barangsiapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah maha kaya lagi maha terpuji” (Lukman 12).

Ketiga: Allah tidak akan menurunkan siksanya kepada orang yg bersyukur, sebagaimana firmannya dalam surat An-Nisa ayat 147.

ما يفعل الله بعذا بكم ان شكرتم وامنتم

“Allah tidak akan menurunkan azabnya kepadamu, jika kamu bersyukur dan beriman” (An-Nisa : 147)

Semoga yang singkat ini dapat membawa manfaat yang banyak untuk kehidupan kita dunia dan akhirat, dan kita termasuk dalam golongan Hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur, Amin..


برك الله لي ولكم فى القران الكريم
ونفعني واياكم بما فيه من الآيات والذّكرالحكيم
فاستغفروه انّه هوالغفورالرّحيم.
Baca selanjutnya..