Jumat, 18 April 2008




KEWAJIBAN TERHADAP ALLAH DAN BERBUAT BAIK TERHADAP SESAMA MANUSIA

(BAGIAN II)

واعبداللّه ولا تشركو به شيأ وبالوالدين احسانا وبذىلقربى واليتمى والمساكيني والجالرذىالقربي والجارالجنب والصّحب بالجنب وابن السّبيل وماماكت ايمانكم انّ اللّه كان مختالا فخورا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua oarng tua (ibu bapakmu), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S. An-Nisa 36)

Berbuat baik kepada kedua orang tua

Orang tua kita adalah orang yang sangat besar jasanya kepada kita. Keduanya telah menanggung segala derita dan kesulitan dalam memelihara dan membesarkan kita. Ibu kita telah mengalami penderitaan dan kepayahan dalam mengandung kita selama kurang lebih sembilan bulan lamanya. Dan setelah kita lahir ke dunia, kita dirawatnya dengan segala kasih sayang, sampai dewasa.
Oleh karena itu islam telah mengajarkan prinsip-prinsip akhlak yang wajib diamalkan oleh anak terhadap orang tuanya, prinsip-prinsip itu adalah :
  1. Ihsan, Yaitu berbuat baik kepada orang tua, setiap anak wajib berbuat baik kepada kedua orang tuanya, sebagaimana firman Allah SWT :

    “Dan Allah telah memerintahkan supayan kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…. (Al-Isra : 23)
  2. Berkata dengan lemah lembut, Allah memerintahkan kepada kita agar berkata dengan lemah lembut kepada orang tua, dan jangan sekali-kali kita membentaknya, Firman Allah SWT:


    “…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentaknya, dan berkatalah kepada keduanya dengan ucapan yang mulia “ (QS.Al-Isra, 23)
  3. Merendah hati, yang dimaksud dengan merendah hati adalah, merendahkan diri kita dihadapan orang tua, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan,. sekalipun kita sudah dewasa serta memiliki banyak ilmu dan harta, dibandingkan dengan orang tua kita, Firman Allah SWT :


    “Dan rendahkanlah dirimu terhadap diri mereka berdua dengan penuh kesayangan… (Al-Isra, : 24)
  4. Berterima kasih, Allah memerintahkan kepada kita agar kita mau berterima kasih kepada kedua orang tua, sebab karena merekalah kita lahir di dunia. Firman Allah SWT,


    “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapinya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua ibu bapakmu.Hanya kepadakulah kamu kembali” (Q.S.Lukman : 14)
  5. Memohonkan ampun, Allah memerintahkan kepada kita agar kita selalu mendo’akan kedua ibu bapak kita, Firman Allah SWT :


    “Dan do’akanlah kepada keduanya : Wahai tuhanku, kasihanilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidik aku di waktu kecil” (Al-Isra : 24)
  6. Berbakti sesudah orang tua meninggal dunia, Walaupun salah satu atau kedua orang tua kita telah meninggal dunia, kita tetap wajib berbakti kepada keduanya, Rosulullah SAW bersabda :


    “Dari Malik As-Saidi berkata : Ketika kami duduk bersama Rosulullah SAW, datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah, dia bertanya kepada Nabi: “Ya Rosulullah, apakah masih ada yang dapat saya lakukan untuk berbakti kepada orang tuaku sesudah mereka meninggal dunia? “ Rosulullah menjawab: Ada, yaitu mendo’akan keduanya, memintakan ampun bagi keduanya, melaksanakan janji keduanya, dan menyambungkan hubungan silaturahmi, yang tidak mungkin tersambung kecuali dengan keduanya, dan memuliakan teman-temannya.”(H.R.Abu Daud, Ibnu Malik dan Ibnu Hibban).
Ada satu cerita yang amat menarik yang pernah terjadi di zaman Rosulullah SAW, yaitu seorang anak yang bernama Al-Qomah yang kurang memperhatikan ibunya yang sudah tua renta.
Al-Qomah ialah orang yang sangat taat kepada Allah, rajin shalat, tekun puasa dan dermawan pula. Pada suatu ketika dia jatuh sakit yang amat parah, dalam keadaan tidak lagi berdaya/sekarat istrinya disuruh menghadap Rosulullah SAW dan menyampaikan kepada beliau bahwa suaminya dalam keadaan sekarat. Kemudian Rosulullah SAW mengutus Ammar, Suhaib dan Bilal untuk menjenguknya dan diingatkan supaya Al-Qomah mengucapkan kalimat "Lailaha Ilallah" Setelah ketiganya sampai ke tempat Al-Qomah, memang benar ternyata dia dalam keadaan sekarat. Kalimat Thoyyibah itupun diingatkan atau diajarkan, tetapi lidah Al-Qomah kaku membisu tidak mampu mengucapkannya.Berita ini disampaikan kepada Rosulullah SAW, lalu beliau bertanya “ Apakah di antara kedua orang tuanya masih ada yang hidup? “Ada ibunya yang sudah tua renta ya Rosulullah, jawab mereka”. Kemudian Rosulullah mengirim utusan untuk menemui ibu Al-Qomah dan dapat menghadap beliau kalau memungkinkan atau dapat menunggu di tempat, kemudian beliaupun (Rosulullah SAW) datang “Sayalah yang lebih pantas datang menghadapmu ya Rosulullah” kata ibu Al-Qomah sambil mengambil tongkatnya. Kemudian Rosulullah SAW bertanya kepada ibunya: “Bagaimana keadaan Al-Qomah?, “Dia rajin shalat, rajin puasa dan banyak bersedekah” kata ibunya. Lalu bagaimana ibu mengurusi diri sendiri? Tanya Rosulullah, Saya sebenarnya sangat marah ya Rosulullah, kata ibunya, kenapa? Tanya Rosulullah.”Dia lebih mementingkan istrinya dan mengabaikan saya ya Rosulullah, jawab ibunya” Oh…rupanya inilah yang menjadi penyebab Al Qomah tidak dapat mengucapkan kalimat "Lailaha illallah" Kata Rosulullah.
Kemudian Rosulullah memerintahkan Bilal untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak- banyaknya. Apa yang akan anda lakukan ya Rosulullah? Kata ibunya.”Saya akan membakar Al Qomah di hadapan ibu , kata Rosulullah “ Hati kecilku tak mengijinkan , bila engkau membakarnya di depan mataku ya Rosulullah, sahut ibunya, “tidakkah azab Allah lebih keras dan lebih kekal, kata Rosulullah . Bila hati ibu menginginkan Al Qomah mendapat ampunan dari Allah, maafkanlah kesalahannya, karena tidak ada manfaat shalat, puasa, sedekah Al Qomah selama ibu masih tetap marah kepadanya, kata Rosulullah, “kalau demikian saya relakan dan saya maafkan dia ya Rosulullah”, kata ibunya, Bilal silahkan pergi lihat dan perhatikan Al Qomah, apakah dia sudah mampu mengucapkan kalimat "Lailaha Illallah"atau tidak, kata Rosulullah, apakah ibu Al Qomah tadi berkata sesuai dengan kata hatinya atau tidak kata Rosulullah, Begitu Bilal sampai, didengarnya Al Qomah mengucapkan kalimat ﻻﺍﻟﻪﺍﻻﺍﷲ kemudain Bilal berkata kepada orang banyak: “Kemarahan ibu Al Qomahlah yang menyebabkan lidahnya kaku, dan Ridhonya pula yang menjadikan lidahnya lancar mengucapkan kalimat "Lailaha illallah"

Pada hari itu juga Al Qomah meninggal dunia dan pada saat pemakamannya Rosulullah datang dan mengatakan : “ Hai jamaah Muhajirin dan Anshor, siapa saja yang lebih mengutamakan istrinya dari pada ibunya, maka akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat dan manusia semuanya.Tidak ada jalan lain kecuali segera bertaubat kepada Allah, serta memohon maaf dan Ridho orang tuanya, karena “seseorang akan mendapat ridho Allah apabila orang tuanya ridho kepadanya, dan seseorang akan mendapat murka Allah apabila orang tuanya marah atau murka kepadanya”.

Dari kisah di atas dapat kita pahami, betapa pentingnya kedudukan orang tua di depan seorang anak. Karena orang tua dapat mengantarkannya ke depan pintu gerbang surga karena bakti anaknya itu, dan sebaliknya dapat pula mengantarkannya ke depan pintu neraka karena dia durhaka.

Bagaimanapun taat seorang anak kepada Allah, dan berapapun banyaknya kebajikan yang dia perbuat, tidak dapat membebaskannya dari azab Allah bila hati orang tuanya telah terluka olehnya dan belum terobati dengan jalan meminta maaf dan memohon ridhonya.


Sumber :
Tafsir Al-Qur’an – Depag R,IAqidah Akhlah – PGA Negeri Jakarta 1986, 50 Perbuatan & Prilaku yang Membawa Malapetaka – M.Ali Hasan )

Tidak ada komentar: